MATRIX
Learning
System
“Secanggih apapun metode pembelajaran yang digunakan, tidak akan ada artinya jika anak didik tidak memiliki motivasi”
SEMUA BERAWAL DARI MIMPI!
Motivasi adalah dasar pemikiran dan keinginan yang kuat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan motivasi, sesorang mampu melewati berbagai tantangan, hambatan, dan ujian yang berat. Motivasi diibaratkan seperti sebuah energi besar yang tak pernah mati.
Dari mana munculnya motivasi? Motivasi muncul dari mimpi. Ya, semuanya memang berawal dari mimpi! Percaya atau tidak, sebuah mimpi atau cita-cita mampu mengubah dan mewarnai dunia. Walt Disney, salah seorang tokoh di dunia hiburan, menyatakan bahwa:
“Jika anda dapat memimpikannya,
anda pasti dapat melakukannya!”
APA ITU MATRIX LEARNING SYSTEM?
Motivasi adalah unsur utama dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan motivasi yang kuat, anak didik akan mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada di depannya. Tidak menyerah ketika mengerjakan soal yang sulit, tidak akan mengeluh dalam menghadapi berbagai ulangan, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri. Dengan motivasi yang kuat pula, seorang guru akan memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.
Pendeknya, motivasi mampu membuat proses pembelajaran menjadi lebih bergairah dan bersemangat. Guru dan anak didik memiliki keinginan yang kuat untuk bersama-sama menjadi yang terbaik dalam meraih mimpi dan cita-cita. Jika kondisi seperti ini sudah tercapai, maka apapun metode pembelajaran yang digunakan akan diterima dengan semangat dan tanpa keluh kesah.
MATRIX Learning System hadir sebagai metode pembelajaran yang lebih mengedepankan motivasi sebagai awal dari proses pembelajaran, khususnya pelajaran Matematika.
Kata “MATRIX” sendiri merupakan akronim dari “Motivation Applicated To The Real Mathematics”. Dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih “Penerapan Motivasi Dalam Dunia Matematika Yang Nyata”. Metode pembelajaran ini dikembangkan oleh penulis melalui berbagai pengamatan dan penelitian langsung di lapangan.
BAGAIMANA KONSEPNYA?
Secara umum, ada 6 konsep dasar dalam menjalankan MATRIX Learning System ini. Keenamnya merupakan rangkaian dari kata MATRIX, yaitu:
- M → MOTIVATION
Konsep pertama adalah pemberian motivasi bagi anak didik pada saat memulai proses pembelajaran. Jika berhasil, anak-anak didik akan tampak bersemangat dan siap menghadapi berbagai kesulitan selama proses pembelajaran Matematika berlangsung.
- A → ACTIVITY
Konsep kedua adalah dengan melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan. Untuk materi pelajaran Matematika Aplikatif, kegiatan dapat dilakukan dalam bentuk permainan atau kegiatan di luar kelas. Sedangkan untuk Matematika Non-Aplikatif, dapat dilakukan dalam bentuk pembuktian rumus-rumus Matematika secara berkelompok.
- T → THEORY
Dari berbagai aktivitas dan kegiatan yang telah dilakukan, setiap anak didik pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah. Dari sinilah dimunculkan konsep ketiga, yaitu setiap anak didik dirangsang untuk mengungkapkan teorinya masing-masing. Meskipun tidak sesuai dengan teori Matematika yang berlaku, namun anak didik dilatih untuk berpikir terhadap suatu permasalahan.
- R → RESULT
Konsep yang keempat, guru memberikan sedikit petunjuk mengenai gambaran terhadap permasalahan yang dibahas. Pada bagian ini, guru pun menjelaskan teori Matematika yang sebenarnya. Akan lebih baik jika guru tidak hanya menjelaskan teori yang sebenarnya, tetapi juga mendiskusikan teori-teori yang lahir dari pemikiran anak didiknya itu.
- I → IMPLEMENTATION
Setelah semua anak didik mengetahui teori Matematika yang sebenarnya, barulah beranjak ke konsep selanjutnya, yaitu pelaksanaan. Pada konsep ini, anak didik melaksanakan pembelajaran berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan. Bentuknya bisa berupa latihan soal, kuis, atau mengisi lembar kerja.
- X → EXTRAORDINARY
Konsep yang terakhir adalah bentuk penghargaan kepada anak didik. Seorang guru tidak boleh merasa sungkan untuk memberikan pujian kepada anak didik. Sekecil apapun prestasi yang diraih anak didik, mereka tetap perlu diberikan penghargaan. Sebaliknya, anak didik yang merasa gagal hendaknya diberi semangat karena sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat luar biasa.
BAGAIMANA APLIKASINYA?
Setelah mengetahui keenam konsep dasar MATRIX Learning System, saatnya untuk menerapkan konsep tersebut di ruangan kelas. Bagaimana memulainya?
MULAI DENGAN CERITA INSPIRASI
Sepenggal cerita inspirasi ternyata mampu menggugah emosi dan semangat bagi seseorang. Teknik seperti ini dapat diterapkan oleh guru sebelum menyampaikan materi pembelajaran kepada anak didiknya.
Sumber cerita bisa berasal dari pengalaman pribadi, kehidupan sehari-hari, maupun biografi tokoh-tokoh besar di dunia.
- Cerita dari pengalaman pribadi
Setiap guru pasti memiliki beberapa pengalaman yang menarik dan menggugah emosi bagi anak didiknya. Ceritakanlah pengalaman tersebut dan jangan lupa jelaskan hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut.
- Cerita dari kehidupan sehari-hari
Begitu banyak cerita inspirasi yang dapat diambil dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, cerita tentang anak jalanan yang ingin bersekolah, anak yang fisiknya terbatas namun bisa berprestasi, dan lain sebagainya.
- Cerita biografi tokoh-tokoh besar dunia
Hampir semua tokoh-tokoh di bidang Matematika memberikan inspirasi yang luar biasa. Anak didik tentu akan terkagum-kagum dengan cerita nyata tersebut. Misalnya, Blaise Pascal yang menemukan konsep sudut pada segitiga ketika berumur 12 tahun. Bisa juga cerita Carl Friedrich Gauss yang mampu menjumlahkan dengan cepat bilangan 1 sampai 100 pada umur 10 tahun.
Masih banyak lagi cerita-cerita inspirasi yang dapat disampaikan kepada anak didik. Guru dapat mencarinya di berbagai media, termasuk internet.
INI AKSIKU, MANA AKSIMU?
Setelah mendengarkan cerita inspirasi, anak didik akan merasa termotivasi. Untuk itu, lakukanlah aktivitas atau kegiatan yang berhubungan dengan cerita yang disampaikan. Dengan demikian, anak didik akan merasa menjadi tokoh yang diceritakan dalam cerita tersebut. Sebagai contoh, setelah mendengarkan cerita biografi
Blaise Pascal yang pada umur 12 tahun menemukan konsep sudut pada segitiga, anak-anak didik melakukan kegiatan yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh Blaise Pascal. Kegiatannya adalah membuat berbagai bentuk segitiga dari kertas dan memotong tiap-tiap sudutnya. Kemudian, potongan-potongan sudut tersebut digabungkan. Bagaimana kesimpulannya? Biarlah masing-masing anak yang mengemukakan teorinya.
AH…TEORI!
Hasil dari kegiatan yang telah dilakukan tentunya akan memunculkan sudut pandang yang berbeda bagi setiap anak. Guru harus memberikan kesempatan bagi setiap anak didik untuk memberikan teorinya masing-masing.
Misalnya, setelah melakukan kegiatan memotong sudut-sudut segitiga, anak-anak didik akan memiliki teori yang berbeda-beda. Mungkin ada yang mengamati bentuk dari potongan sudut segitiga, ada yang menjelaskan teknik memotong, ada juga yang menghitung besarnya potongan sudut segitiga tersebut. Biarlah anak didik mengembangkan pola pikirnya dengan teorinya sendiri.
MATERI SEDERHANA
Semakin sederhana materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran, semakin mudah pula materi tersebut diserap oleh anak didik. Untuk itu, seorang guru hendaknya jangan memberikan materi yang terlalu berat. Mulailah dari konsep sederhana yang kemudian bertahap ke tingkatan selanjutnya.
Sebagai contoh, guru menjelaskan hasil dari kegiatan memotong sudut segitiga tersebut. Hasilnya adalah bahwa jumlah-jumlah sudut segitiga adalah 1800. Dengan hasil ini, teori-teori yang dibuat oleh anak didik tidak menjadi salah, justru menjadi pelengkap dalam pembahasan materi yang akan dibahas selanjutnya.
AYO, BERLATIH!
Matematika merupakan pelajaran yang cukup unik. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Matematika memiliki karakter latihan. Semakin sering anak didik berlatih, maka semakin akrab anak didik tersebut dengan Matematika. Dengan demikian, seorang guru harus mempersiapkan materi latihan untuk anak didiknya dalam setiap proses pembelajaran. Bentuknya bisa berupa worksheet yang dibuat secara menarik.
Sebagai contoh, dari kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan memotong sudut segitiga, guru telah mempersiapkan worksheet dengan materi yang sesuai tersebut. Jadi, pada akhir proses pembelajaran, anak-anak didik berlatih mengerjakan soal-soal pada worksheet yang telah disediakan.
KAMU HEBAT!
Sebelum mengakhiri proses pembelajaran, seorang guru hendaknya memberikan penghargaan kepada semua anak didiknya. Penghargaan yang diberikan bisa berupa ucapan terima kasih, pujian, atau bahkan doa.
Penghargaan seperti itu diberikan karena mereka telah mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Dengan cara seperti ini, anak didik akan merasa dihargai segala usahanya dalam proses pembelajaran. Secara tidak langsung, hal ini akan memotivasi mereka untuk lebih baik lagi pada pertemuan berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar